Jumat, Juli 23, 2021

Mr. A dan Simbol Ketertolakan

 Senormalnya remaja pada umumnya, aku pun sempat mengalami apa yang disebut sebagai cinta pertama di masa remaja. Dia adalah seorang kakak kelasku ketika SMA, berinisial VTA, yang selanjutnya akan aku sebut sebagai Mr. A.

Mr. A tepat satu tingkat di atasku. Pada saat masuk SMA, awalnya aku tidak tahu dan sama sekali tidak kenal siapa Mr. A ini, tapi beberapa kali sempat dengar namanya saat teman-teman satu kamarku membicaran dia. Menurut teman-teman, Mr. A ini termasuk kakak kelas yang hobi ngecer (hhmmm, bingung juga menerjemahkan arti ngecer itu sendiri, tapi mari sederhanakan saja artinya menjadi: orang gemar tampil di depan dan suka menjadi pusat perhatian dan menebar pesona), selain memang karena dia sangat aktif dalam kegitan sekolah dan dia memang ada di posisi strategis sebagai anggota OSIS dan jajaran pimpinan panitia MOS saat itu.

Tapi aku mulai mengenal dan tertarik pada Mr. A justru bukan saat masa orientasi itu. Aku mulai mengenal Mr. A sekitar tiga atau empat bulan pasca resmi masuk SMA dan aku mulai aktif juga sebagai anggota OSIS. Aku mulai sering melihat dan bertemu dia saat ada rapat OSIS. Bahkan awalnya aku sempat akan masuk ke divisi yang dia pimpin, tapi aku menolak dan memilih divisi lain (sebuah pilihan yang dulu sempat kusesali kenapa gak milih divisi Mr. A )

Sejak mengenal Mr. A, aku mulai tertarik karena dia kelihatan sangat pintar dan sangak aktif, dan lagi dia juga satu dari sedikit siswa di SMA ku yang cukup aktif dalam bidang sastra, dia gemar menulis puisi dan cerpen serta rubrik bulanan yang yang dipasang di mading serta artikel yang dimuat di majalah sekolah. Kesukaannya pada puisi dan cerpen inilah yang menjadi jembatanku dan dia. Seiring berjalan waktu kami jadi berkomunikasi tentang itu lewat inbox facebook.

Entah bagaimana prosesnya, seiring berjalan waktu aku jadi mulai baper ke Mr. A ini, karena dia jadi baik dan cukup dekat, padahal aku juga tahu dia juga dekat dengan mbak kelas, bahkan teman seangkatanku juga. Intinya, sebenarnya tidak ada yang spesial di antara aku dan dia lebih dari dia dengan yang lainnya. Bahkan mungkin sebenarnya justru dia dekat dan TTM dengan orang lain, tapi bukan aku.
Tapi aku tahu aku beneran suka sama Mr. A. Aku mengalami apa yang namanya lidah kelu, dada deg-degan, dan pipi panas, bahkan sampai kaki lemas saat bertemu Mr. A ini. Duuhhh pokonya gag banget lah kalau diingat.

Aku bertahan dengan perasaan suka—atau cinta monyet— ke Mr. A selama lebih dari satu tahun lamanya. Heboh sendiri dalam diam saat berinteraksi, blushing saat Mr. A memanggil namaku. Hal-hal konyollah pokoknya. Tapi aku tidak pernah bisa membaca Mr. A. Sampai pada bulan April 2014, setelah aku bertahan dengan rasa suka itu selama lebih dari satu tahun, aku memutuskan untuk bilang Mr. A bahwa aku suka dia. Salah satu pertimbanganku adalah saat itu Mr. A sudah hampir lulus dan pasti dia akan melanjutkan studinya, dan aku tidak yakin akan sempat bertemu lagi dengan Mr. A setah dia lulus. Maka suatu hari, kuberanikan diri dan kutetapkan tekad untuk bilang ke Mr. A tentang perasaanku. Pokoknya yang ada di pikiranku saat itu: setidaknya, Mr. A harus tahu dan aku tidak mengharapkan balasan atau apapun itu. Dan dengan itu, maka kutuliskan sebuah surat buat Mr. A yang kukirim lewat inbox facebook.

 

Butuh waktu dua kali 24 jam buat Mr. A merespon pesanku. Dia awali pesannya dengan Bismillahhirohmannirohim. Dia bilang dia tidak tahu bahwa aku punya perasaan seperti itu, dia berterima kasih aku telah punya perasaan seperti itu padanya, bahkan dia juga minta maaf semisal ada ada tingkah atau perlakuaanya yang mungkin men-trigger-ku untuk bisa punya perasaan seperti itu.
tapi hanya sedemikan itu saja, karena jelas tidak pernah ada harapan untuk aku dan dia. Aku paham itu, aku maklum dan aku sadar. Maka kukatakan padanya aku pun paham posisi kita dan tidak berharap apapun. Satu-satunya harapanku adalah aku ingin tetap berteman.

Tapi ternyata semua tidak berjalan seperti harapanku. Karena kesibukan dan hal-hal lain, komunikasiku dengan Mr. A kian waktu kian surut. Mr. A pun juga jadi menjaga jarak denganku, jauh lebih berjarak timbang sebelum aku nekad.

Aku maklum. Aku tidak marah. Bahkan cenderung menyalahkan diri sendiri karena aku terlalu gegabah. Dan lambat laun, perasaanku justru berubah menjadi rasa tertolak dan terabaikan.

Semakin waktu berjalan, aku mencoba beberapa kali menyapa, kira-kira pasca aku dioperasi dan di awal-awal kuliah. Tapi jelas, respon yang kudapat sangat amat jauh lebih forml dan ala kadarnya dibanding saat dulu kita masih satu SMA. Dan lagi, aku jadi makin baper dan rasa tertolak dan terlupakan itu kian membesar. Tidak menimbulkan kemarahan atau emosi meledak lainnya, tapi pelan-pelan bercokol masuk ke alam bawah sadar. Di tambah lagi, setelah Mr. A, aku belum pernah mengalami jatuh cinta lagi yang terasa seperti jatuh cinta. Rasa tertarik ke beberapa nama juga tidak pernah terasa seperti rasa suka ke Mr. A dulu. Jadi aku mulai percaya bahwa aku belum pernah lagi jatuh cinta setelah dengan Mr. A.

Nahh, kembali ke “perasaan terlotak” yang dipicu oleh ekspektasiku atas respon Mr. A yang tak tercapai. Pelan-pelan perasaan itu masuk ke alam bawah sadarku, dan termanifestasi dalam mimpi. Aku sadari, aku beberapa kali memimpikan Mr. A, baik dengan skenario yang menyenangkan maupun yang tidak begitu membahagiakan. Namun keduanya sama saja, sama-sama menimbulkan rasa kecewa tiap kali aku bangun karena mau tidak mau aku harus kembali mengingat Mr. A.  Aku mulai marah, aku mulai jengkel. Kehadiran Mr. A di mimpiku selalu mengingatkanku pada perasaan tertolak dan terabaikan. Aku tidak mau mengingat dia dengan cara demikian.

Hingga beberapa hari lalu, Mr. A kembali masuk ke mimpiku, dan aku terbangun dengan perasaan tidak karuan, ada kesal, ada marah, ada kangen, ada gembira juga. Pokoknya jadi tidak nyaman. Aku sempat cerita pada Ratu, dan seperti biasa di mulai memancingku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku mau tidak mau mempertanyakan diri dan trayeek pikiranku sendiri. Dan memang itu yang kubutuhkan untuk menguraikan jalan pikiran dan alur emosiku sendiri. Dengan kata lain, mengenali diri dan perasaanku sendiri.

Lalu aku putuskan untuk duduk diam, menarik nafas, dan mulai sedikit menganalisa kehadiran Mr. A di mimpiku. Mempertanyakan mengapa dia kerap hadir padahal aku tidak memikirkannya dan tidak pernah lagi berinteraksi.

Maka setelah kuingat-ingat lagi momen-momen atau fase hidup apa yang kualami tiap kali Mr. A muncul di mimpiku, aku memperoleh kesimpulan bahwa ia hadir di saat-saat aku mengalami fase “penolakan”. Fase atau momen di mana aku baper karena merasa tidak punya siapa-siapa, momen saat aku bernafsu ingin dekat dengan seseorang dalam lingkup pertemanan tapi aku merasa ternyata aku tidak sepenting itu atau sedekat itu bagi mereka.

Dengan kata lain, sebenarnya kehadiran Mr. A itu bukan murni sebagai Mr. A melainkan sebagai manifestasi perasaanku dan emosi negatifku sendiri.

Sama halnya aku dengan semena-mena menempatkan Mr. A sebagai sosok antagonis dalam kisah cinta pertamu kaena dia menjauh pasca aku menyatakan perasaan. Padahal, sebenarnya aku saja yang kelewat baper (baik sejak momen aku mulai jatuh cinta, mulai memndam cinta, hingga momen nekad menyatakan cinta). Aku tidak pernah benar-benar berdialog dengan Mr. A, baik secara fisik maupun energi tentang hal ini, tapi aku hanya terfokus pada pesepsi dan perasaanku sendiri.

Ini bukan soal Mr. A, melainkan soal aku yang ternyata masih kurang peka terhadap perasaanku sendiri. Aku masih terseok dan tertatih untuk mengatur lingkaran-lingkaran porsi dalam peta perasaan dan pikiranku sendiri. Nahas untuk Mr. A, dia harus muncul dalam mimpiku sebagai manifestasi dari perasaan “tertolak dan terabaikan” dari alam bawah sadarku.

Mas A, maafkan aku yaa...

Aku akan belajar lagi untuk tidak mengkambinghitamkan orang lain atas ekspektasiku yang tak sampai dan juga atas tingkat baper-ku yang seringnya, tanpa kusadari, melampaui batas wajar.

Senin, Juli 12, 2021

Pandemi sedang mengukir sejarahnya

Di masa depan tragedi pandemi covid-19 yang dialami seluruh bagian dunia ini akan dikenang sebagaimana orang akan mengenang Perang Dunia.

Per hari ini (Juli 202) Indonesia telah memasuki masa pandemi virus covid-19 atau korona selama satu tahun empat bulan, dihitung secara kasar. Dan itu artinya secara global umur pandemi virus ini lebih lama lagi mengingat virus pertama terdeteksi di Wuhan China pada 2019.

Satu tahun berlalu, tapi kondisi tidak makin membaik, justru makin terpuruh dan chaos. Dan sedihnya lagi, bukan hanya di Indonesia, melainkan hampir di sebagian besar dunia.

Selain karena virus itu sendiri, kengerian dan chaos juga dipicu oleh keriuhan baik secara real maupun di dunia Maya yang malah makin tak terkendali. Ada yang chaos dan kalang kabut karena kasus positif dan kematian karena covid makin membludak, ada yang masih riuh karena berita konspirasi, ada pro-kontra serta cerita-cerita hiperbola terkait vaksin, belum lagi pagêblug yang menimpa banyak daerah.

Bicara soal kematian, di desaku sendiri dan desa-desa di sekitar juga tak luput dari tragedi pagêblug. Banyak sekali berita duka, bahkan hampir setiap hari. Memang bukan karena kasus covid, tapi banyak nyawa tumbang yang mayoritas karena penyakit menahun yang diderita.
Apakah dunia dan bumi sedang membersihkan dirinya dengan mengurangi jumlah populasi manusia???

Lain di real life lain pula di sosmed, hampir tiap kali membuka sosmed dan grup-grup wa alumni sekolah, juga hampir selalu ada saja berita duka. Semua serasa seolah-olah kita memang sedang berperang dan bertaruh antara hidup dan mati.

Situasi pandemi benar-benar sedang mengukir sejarahnya.

Jumat, Juli 02, 2021

Hospital Playlist: Hiburan, Pelajaran, dan Nostalgia

 Penggemar serial drama Korea pasti tidak asing lagi dengan drama ini, Hospital Playlist karya Shin WonHo PD-nim dan Lee EungBok chakka-nim. Drama ini sendiri saat ini telah memasuki season kedua dan Kamis 1 Juli kemarin telah menayangkan episode ke-3. Sedangkan untuk season pertama telah tayang pada April tahun 2020 dengan total 12 episode.

 

Secara pribadi, aku memang penggemar drama-drama karya Shin PD sejak era Reply series hingga Prison Playbook. Drama-drama karya Shin PD terasa spesial dengan ciri khas relationship yang beda dari drama lainnya, drama-dramanya umumnya menonjolkan tentang kekeluargaan, pertemanan, hubungan sosial antar manusia yang dipotret sebagai sebuah keselarasan dan kemanisan. Namun demikian, Hospital Playlist punya arti lain bagiku di samping memang aku penyuka genre medis yang tiap-tiap tokohnya saling unjuk skill.

 

Hospital Playlst membawa sebuah nuansa nostalgia bagiku terkait rumah sakit, pasien menunggu jadwal operasi, rawat inap, serta pandanganku terhadap para orang tua, utamanya ibu-ibu yang mengantar atau menunggui anak-anaknya yang sedang sakit di rumah sakit. Aku pernah berada di rumah sakit untuk  selama hampir dua bulan, serta beberapa tahun rawat jalan dan terapi.

 

Aku masih ingat, di season 1 lalu, aku memilih scene di episode  di mana Kim Junwan datang ke pemakaman seorang pasien bayi yang diputuskan mengalami mati otak dan Junwan memohon kepada orang tua si bayi untuk mau mendonorkan jantung bayinya kepada pasien bayi lain yang sama kritisnya dan perlu donor jantung segera. Scene itu sangat emosional untukku dan penuh sesag, ditambah lagi dengan background music All My Tears yang dinyanyikan oleh Ikjun di latar belakang, rasanya makin menyayat. Dari scene itu aku bisa melihat sisi lain seorang Kim Junwan yang biasanya galak, cerewet, nan ketus menjadi sosok yang sangat perhatian dan penuh empat serta simpati walau tindakan itu tidak dilakukan untuk membangun imej, tapi murni bentuk kepedulian, sebuah sisi lain dari diri seorang Kim Junwan. Tapi lebih dari itu, di scene itu aku melihat perjuangan seorang ibu, lebih tepatnya dua orang ibu dari dua anak yang berbeda. Salah seorang ibu harus merelakan kematian bayinya setelah berjuang sekian lama, bahkan dia dengan berat sekaligus besar hati merelakan jantung bayinya untuk didonorkan. Serta seorang ibu lain yang berjuang mati-matian pula untuk anaknya agar tetap hidup hingga akhirnya mendapat donor jantung.

 

Pengalaman menjalani perawatan di rumah sakit sekian lama membuatku memandang sosok ibu—khususnya, dan orang tua umumnya— dalam memperjuangkan kesembuhan untuk anak-anaknya itu adalah sebuah perjuangan hidup yang teramat .... aku tidak tahu harus menyebutnya bagaimana, aku kehilangan kata-kata. Satu yang jelas, sebuah perjuangan yang mungkin tidak akan sama efelnya jika posisinya dibalik.
Bahkan tak jarang aku merasa iri pada bayi-bayi, anak-anak, atau pasien lain yang ditunggui ibunya selama menjalani perawatan, sedangkan saat itu aku menjalani perawaan sebelum operasi sendirian, tanpa ibu, tanpa orang tua di sisiku karena satu dan lain hal, selama lima minggu.

 

Dan kisah nostalgia itu kembali terulang di episode kemarin. Lagi-lagi kisah perjuangan dua ibu untuk anaknya. Ada dua orang ibu, anaknya sama-sama pasien Kim Junwan, dan mereka masih balita. Salah seorang ibu lebih berpengalaman dari yang satunya karena anaknya sudah lebih lama dirawat di rumah sakit. Si ibu yang lebih berpengalaman itu nampak sangat tegar dan selalu optimis, dia sering menyemangati ibu satunya—yang anaknya baru saja didiagnosa penyakitnya dan menerima perawatan ini itu— dengan penuh optimisme, berbagi pengalaman tentang perawatan apa saja yang akan dilalui anak-anak mereka, menenangkan si ibu “baru” jika ada hal-hal yang tampak membuatnya down, bahkan membawakan dan berbagi makan. Si ibu yang berpengalaman bahkan membagikan pikirannya tentang merawat anak-anak merekan dan mengibaratkan diri mereka sebagai atlet maraton yang sedang berlari untuk mencapai garis finis.

 

Singkat cerita, di episode kemarin anak si ibu “baru” mendapat keajaiban, dia mendapatkan donor jantung dan dapat segera dioperasi. Si ibu, dan ayahnya tentu saja sangat bahagia. Orang tua-orang tua lainnya juga memberi selamat, tak terkecuali si ibu berpengalaman. Ada kelegaan dan secercah kebahagiaan serta harapan yang terpancar di scene itu. Namun demikian, ada sisi lain yang terasa menyayat hatiku. Adalah si ibu berpengalan, dia menangis sendirian di taman rumah sakit, menangis dengan amat sangat keras. Junwan dan Jaehak melihat hal itu dan mereka memutuskan untuk tidak megganggu si ibu. Walau tanpa kata, aku tahu bahwa bagi si ibu yang berpenglaman itu pun semua perjuangnnya pun sangat berat. Dia menyimpan harap dan kekhawatiran yang sama besarnya. Dia pasti juga menantikan kapan anaknya akan dapat donor. Di balik sikan optimisnya, ada kekedihan dan mungkin keputusasaan yang coba ia kubur karena ia yakin keajaiban juga akan datang untuk anaknya.

 

Oh ya, ada satu lagi kisah seorang ibu yang sangat menyayat hatiku. Di season pertama, anak ibu itu telah meninggal setelah menghabiskan hampir keseluruhan dari tiga tahun hidupnya di rumah sakit. Dan di season kedua ini, si ibu diceritakan kerap memgunjungi rumah sakit, sekedar untuk mampir atau membagikan sesuatu, sampai-sampai ada yang mencurigai ibu ini sedang berusaha untuk menuntut rumah sakit dan datang untuk mengumpulan bukti.

Namun Ahn JeongWon menangkap maksud si ibu ini dengan tepat. Si ibu hanya sangat merindukan dan ingin membicarakan anaknya yang sudah meninggal, dia tidak punya tempat lain atau orang lain yang mengingat anaknya selain orang-orang dari rumah sakit itu karena anaknya memang menghabskan hampir seluruh hidupnya di rumah sakit.

 

Ahh, batapa, aku sangat tersentuh dengan sedikit potret perjuangan ibu-ibu dan orang tua pada umumnya yang dipotret dalam dtama ini. Apa yang kutuliskan ini hanya sebagian, masih banyak laagi kisah kemanisan dan kasih seorang ibu dan orang tua yang dipotret di sini. Pun banyak juga kisah-kisah lain yang mungkin sangat relate dengan keidupan sehari-hari yang mungkin bisa kita temui dalam situasi di rumah sakit.[*]

Tentang Membangun Kebiasaan Kecil-Kecil

 Memasuki bulan Desember tahun 2022, saya sempat berfikir dan bertekat: tahun depan harus punya peningkatan atau self improvement , setidakn...