Minggu, Oktober 22, 2023

Seribu Dian

sebuah puisi yang frasa judulnya diilhami dari penggalan lirik lagu campur sari yang akhir-akhir ini viral kembali dan banyak dibuat dance covernya: Taman Jurug.

....  lir sewu dian anglerap nggugah kenangan ...

 

Seribu Dian

 

malam ini seorang kekasih datang padaku membisikkan bahwa seribu dian akan disulut di alun-alun, dari segala penjuru ribuan perempuan memanggul teplok di kepalanya, memendarkan warna-warni cahaya yang barangkali dicuri dari jutaan bintang, sebab di langit kini kosong,

—atau kunang-kunang?

 

bocah-bocah riuh mengulur sumbu yang mereka wedar dari segulung bulan bulat di puncak cemara, satu-satunya yang tersisa, aku tak menemukan kekasih lain selain kekasihku, syair dan kidung tentang asmara sudah lama tak terdengar di kota ini,

 

lewat tengah malam, yang tak lagi ditandai bulan, seribu dian telah disulut di alun-alun, ribuan perempuan memeluk agar bocah-bocah tak kembali penasaran dan usil mematikan nyalanya, sebab, lagi-lagi, di langit kini kosong.

 

namun tiba-tiba, di situ, di puncak mezbah kulihat kekasihku terbaring, seorang perempuan menghunuskan belati tepat di jantungnya, aku berteriak, berontak, namun suara dan tubuhku tak ke mana, seribu perempuan menatapku dengan iba yang terlampau biasa, sebab mereka kini memeluk nyala teploknya sendiri-sendiri,

 

di tanganku sebilah belati menjelma sebentuk dian, darah anggur berleleran menjelma cahaya merah yang mahaindah bagai habis dikecupi jutaan gemintang

—mungkin kunang-kunang

 

pada bibirku terukir sebentuk senyum saat kucumbui jantung kekasihku, memasukkannya pada celah dadaku untuk kulahirkan kembali nanti, dan seribu dian akan kembali disulut, lewat belati yang menghujam jantung kekasihku.

 

 2020-2022



Mamaknai Hari Santri Nasional dalam Konteks Kedirian Kita Sendiri

 Sejak tahun 2015, pemerintah Indonesia telah menetapkan tanggal 22 November sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan yang berlandaskan hukum pada surat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 ini memang terbilang baru. Namun tentunya memiliki makna dan semangat yang hendak ditularkan.

Dalam upacara peringatan Hari Santri Nasional 2023 di Tugu Pahlawan Surabaya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwasanya semangat Hari Santri harus tetap digelorakan dengan melihat konteks kekinian. Lebih lanjut, Jokowi menambahkan salah satu konteks kekinian yang dimaksud adalah dari segi kesiapan dalam menghadapi krisis pangan akibat adanya perang di Ukraina serta Palestina.

Namun, sebelum kita membahas terlalu jauh dari semangat Hari Santri yang disinggung oleh presiden Jokowi, saya ingin mengajak kita untuk memaknai Hari Santri ini dalam konteks yang lebih personal, yakni bagi diri kita masing-masing.

Mari kita buka bahasan ini dengan pertanyaan: Mengapa Hari Santri harus dirayakan dan diperingati secara nasional?

Bukankah secara hierarki dalam konteks pesantren, santri itu adalah murid dan umumnya justru tunduk pada Kiai yang merupakan gurunya? Kenapa tidak diperingati hari Kiai saja? Mengingat pastinya Kiayi punya ilmu yang lebih “mumpuni” ketimbang santri.

Namun setelah saya renungkan dan membaca beberapa sumber mengenai mengapa hari santri ini layak diperingati dan digelorakan semangatnya, saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan: semangat hari santri adalah gairah belajar (yang hendaknya kita jaga untuk terus bergelora dalam diri kita).

Dari segi bahasa, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “santri” diartikan sebagai orang yang mendalami agama Islam; orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; serta orang yang saleh.

Dari makna leksikal tersebut, mari kita garis bawahi pada “orang yang mendalami” dan “orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh”. (Sengaja tidak saya kutip bagian “agama Islam”, karena saya ingin pemaknaan Hari Santri ini juga berlaku secara universal untuk setiap insan, bukan hanya yang belajar agama Islam, serta bukan hanya yang memeluk agama Islam.)

Santri adalah orang yang belajar atau mendalami ilmu dengan sungguh-sungguh. Dalam konteks Islami, santri adalah sebutan yang umum untuk menyebut pelajar yang belajar ilmu agama di pesantren. Namun jika ditarik dalam konteks universal, santri adalah seseorang yang belajar. Seseorang pembelajar yang punya semangat untuk mengenyam ilmu, baik agama atau apapun itu, dengan sungguh-sungguh.

Maka saya kira, salah satu makna serta semangat Hari Santri yang paling esensial dan fundamental bagi diri kita adalah bagaimana kita menumbuhkan serta merawat gairah untuk terus belajar dan punya semangat untuk mengembangkan diri dengan mendalami ilmu.

Dengan mengambil semangat belajar ala santri, kita akan selamanya mengobarkan jiwa seorang pemuda dan pembelajar yang selamanya haus akan ilmu yang baik dan bermanfaat.

Selamat Hari Santri 2023, Pemuda Indonesia!

Senin, Oktober 16, 2023

Tentang Perpustakaan yang Kini Tertutup

 

Beberapa saat lalu, aku memposting sebuah story whatssapp berupa buku-buku yang dijajar sembarangan di bangku pasca insiden rubuhnya rak serbaguna yang memang sudah terlampau rigkih untuk menampung buku-buku.

Namun satu hal yang menarik perhatianku adalah komentar salah seorang kawan lamaku. Dia menulis: “Aku kangen i moco novel. Wes suwi gak moco novel.” (Aku kangen baca novel. Sudah lama gak baca novel)

Ps: Well, memang mayoritas bukuku adalah novel ya.

Lalu dari situ obrolan kami berlanjut ketika aku membalas kenapa dia tidak pinjam buku di perpustaan sekolah tempatnya mengajar saja (temanku ini guru di sebuah sekolah swasta)? Karena sepengalamanku, biasanya di perpustaan sekolah-sekolah juga menyediakan bacaan berupa novel-novel. Dan aku ingat dulu, saat jaman masih sekolah, aku suka sekali pinjam-pinjam buku di perpustakaan.

Tapi kemudian temanku menjawab: “Tidak boleh. Perpustakaannya selalu dikunci.”

Dheg! Aku sedikit kaget dengan jawabannya. Kok bias perpustakaan di sekolah swasta (yang kupikir cukup bonafide) selalu dikunci? Lalu kalau ada yang pingin baca-baca buku, entah itu murid atau bahkan guru, bagaimana?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya kulontarkan padanya.

Kemudian ia jawab lagi: "Memang gitu aturannya. Anak-anak kalau masuk dan pinjam buku harus ijin dulu. Tapi juga gak boleh baca novel atau buku cerita. Bolehnya baca puku pelajaran."

Membaca jawaban temanku, aku dilanda dheg lagi, tapi bukan karena kaget. Melainkan karena aku merasa betapa …. Duh, apa ya kata yang tepat untuk menggambarkannya. Terlalu sadis untuk disebut “miris”, tapi memang hampir. Atau mungkin akan kusebut saja “kering”.

Ya, betapa keringnya fakta bahwa anak-anak tidak boleh membaca selain buku pelajaran.

Aku pernah mengalami ini. Ibuku dulu punya pandangan bahwa buku yang layak dibaca adalah buku-buku pelajaran saja. Namun untungnya, di masa aku sekolah dulu, aksesku ke perpustakaan-perpustakaan sekolah yang menyediakan bermacam buku sangatlah mudah. Sehingga aku tidak pernah kesusahan untuk dapat buku-buku bacaan yang kusuka seperti buku cerita bergambar, majalah, ensiklopedia, juga novel.

Tapi bagaimana dengan anak-anak jaman sekarang ini?

Kemudian ingatanku juga melayang pada beberapa bulan sebelumnya. Tepatnya pada bulan Juni tahun ini (2023). Aku sempat mengunjungi sekolah lamaku, baik sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama. Salah satu tujuanku di masing-masing sekolah itu adalah mengunjungi perpustakaan.

Namun sayang, di kedua sekolah itu perpustakaannya dikunci rapat dan aku hanya bisa mengintip melalui jendela kaca. Ya, memang sih, saat aku ke sekolah saat itu sudah minggu-minggu bebas setelah ujian kenaikan kelas dan bahkan siswa-siswa SMP sebagian sudah liburan. Sehingga, saat itu, kupikir cukup wajar bila perpustakaan-perpustakaan itu dikunci rapat.

Tapi ada satu hal yang juga mengangguku saat itu. Melalui jendela kaca aku melihat kondisi perpustakaan yang jauh berbeda dari masa aku masih bersekolah dulu. Bukannya tampak makin bagus dan rapi, melainkan sebaliknya. Beberapa rak dan buku tampak jauh lebih kusam, dilapisi debu tebal. Semuanya tampak tak lagi tersentuh tangan manusia untuk waktu yang cukup lama. Apakah memang demikian adanya? (Padahal aku ingat betul ada banyak sekali buku-buku bagus dan menarik di perpustakaan-perpustakaan sekolahku)

Apakah perpustakaan sudah jadi tempat yang tidak menarik lagi untuk dikunjungi? Atau kasusnya seperti di sekolah tempat temanku mengajar: perpustakaan bahkan menjadi tempat “tereksklusif” yang perlu ijin ribet bahkan untuk sekedar dimasuki para siswa karena harus ijin dulu?

Aku melihat kedua kasus ini sebagai bentuk kontradiktif dengan seruan-seruan “Peningkatan Budaya Literasi” yang sering digaung-gaungkan orang-orang. (Bahkan aku yakin temanku ini pernah memposting sebuah poster dari sekolah tempat ia mengajar dengan seruan yang serupa).

Rasanya sedikit tidak pas gituloh. Saat yang digaungkan adalah peningkatan budaya litarasi which is membaca (khususnya), tapi salah satu sarana, tempat banyak bahan bacaan bisa ditemukan, justru tidak dioptimalkan. Bahkan di titk mirisnya dibiarkan terbengkalai.

Dalam bayanganku, jika yang diinginkan adalah generasi yang cinta membaca dan suka buku, maka fasilitas publik seperti perpustakaan, khususnya di sekolah-sekolah itu dibuka lebar-lebar. Setiap anak dibiarkan memilih buku yang disukai untuk dibaca.
Bukan demikan harusnya? Bukankah begitu harusnya budaya literasi ditanamkan?

Tapi kenapa perpustakaan justru ditutup dan terabaikan?

Apakah guru-guru di sekolah saat ini juga sudah putus asa untuk menanamkan kegemaran membaca dalam diri para siswanya? Mungkin saja mereka sudah menyerah karena banyak anak jaman sekarang lebih suka mengelus layar ponsel ketimbang membolak-balik lembaran buku bacaan.

Atau, justru orang-orang jaman sekarang memang sudah modern dan buku-buku fisik mulai dipindah menjadi buku-buku digital.

Ya, ya. Mungkin begitu. Aku akan mencoba berpikir demikian saja. Karena akupun mulai banyak mengumpulkan file-file pdf buku-buku bacaan.

Ah, tapi betapa menyenangkannya kalau perpustaan-perpustakaan tetap jadi tempat yang mudah diakses. Karena sungguh, membaca di perpustakaan lebih nyaman ketimbang membaca di taman atau trotoar. Ups!

Tentang Membangun Kebiasaan Kecil-Kecil

 Memasuki bulan Desember tahun 2022, saya sempat berfikir dan bertekat: tahun depan harus punya peningkatan atau self improvement , setidakn...