Good morning,
Setelah semalam belajar mengenai apa itu 'anxiety' dan 'worry'. Aku sedikit banyak bisa membedakan mana yang sedang kualami. Pada dasarnya 'worry' adalah perasaan khawatir yang dihasilkan oleh otak sebagai mekanisme normal sebagai salah satu bentuk pertahanan. Sedangkan 'anxiety' adalah reaksi fisik—bisa juga psikis— yang diakibatkan oleh worry yang berlebihan dan tidak bisa dikontrol.
Lalu aku mengalami yang mana?
Aku lebih dominan mengalami 'worry'. Di dalam otakku hampir setiap saat selalu terbentuk sebuah skenario buruk sebagai respon dari setiap situasi yang kualami bahkan pikiran/angan yang sedang berlangsung di otakku.
Misalnya pada saat aku dibonceng motor—atau saat menaiki kendaraan apa pun, bahkan saat menyeberang di jalan raya—, di pikiranku selalu muncul adegan-adegan kecelakaan yang mungkin bisa aku alami. Contoh lain, saat aku berkumpul dengan temanku dan teman dari temanku atau teman/orang baru yang aku belum merasa dekat secara personal—I hope you know what I mean—, di otakku akan muncul kekhawatiran dan pertanyaan apakah mereka bisa menerima kehadiranku, apakah sikapku cukup baik, apakah mereka akan kebal dengan sifat asliku yang berisik ceplas-ceplos dan cenderung tidak tahu malu, apakah mereka akan nyaman denganku, apakah mereka akan menolakku kalau tahu uang di sakuku cuma seribu, dst dst.
Contoh lagi, saat aku bertemu dengan teman lama yang sudah tahunan tidak bertemu dan saat bertemu dia/mereka tampak telah hidup dengan lebih baik dan sukses, maka di otakku akan muncul pikiran aku sepertinya sudah tidak pantas bersama mereka, nanti kalau diajak jalan atau ke tempat makan tertentu aku tidak sanggup bayar, apakah mereka masih menerimaku, dll dll.
Aku sadar betul pikiran-pikiran negatif dan skenario buruk yang muncul di otakku itu sebagai manifestasi dari trauma. Gambaran kecelakaan itu merupakan bentuk traumaku pasca kecelakaan besar yang mengubah hidup dan menjadikanku tuna daksa, lima tahun lalu. Sedangkan pikiran buruk saat aku bertemu orang, baik teman lama atau pun orang baru, adalah bentuk trauma karena aku sempat menjadi sasaran bully di masa remajaku. Pem-bully-an ini sungguh sangat membekas di psikisku, ditambah lagi dengan kondisiku saat ini, itulah yang makin memperparah self-esteemku.
Lalu sejauh ini apa yang aku lakukan untuk mengatasi setiap 'worry' atau bahkan 'anxiety' yang muncul setiap saat itu?
I tried. I always been trying to elevate myself. Saat situasi-situasi seperti di atas muncul, aku selalu berusaha untuk menyemangati diriku dan memunculkan pikiran positif di otakku. Menenangkan setiap pikiran buruk itu dengan berusaha menyuntikkan pikiran positif bahwa itu semua hanya kekhawatiran, berkata bahwa setiap orang akan selalu jadi obyek asumsi bagi orang lain dan itu wajar, serta mengatur nafas(kalau ingat). Sejauh ini, aku selalu berusaha dan mencoba untuk mengobati diri dan pikiranku sendiri, mencoba menyemangati sehingga aku bisa bertahan hingga saat ini.
Meski tak jarang usaha-usaha itu gagal, dan aku memilih mengisolasi diriku, memilih circle pertemanan terkecil, yang sudah kupercaya dan kusadari betul bisa menerimaku, untuk berinteraksi.
Pada akhirnya aku sadar, bahwa usaha untuk mengentaskan diri dari 'worry' dan 'anxiety' itu bukan usaha mengukir batu, yang setelah selesai maka hasilnya bisa bertahan selamanya. No, this work is a never ending process, a lifetime act.
Kita akan selalu dihadapkan pada situasi, kondisi, bahkan pemikiran yang dapat men-trigger segala kekhawatiran dan kecemasan itu muncul. Sehingga usaha terbaik yang bisa dilakukan saat itu semua muncul adalah dengan berusaha menenangkan dengan mulai mengambil napas yang dalam(ini hal yang paling sering kulupakan) dan mulai berbicara pada diri dan pikiran kita bahwa segala pikiran negatif itu belum tentu akan terjadi.
So, jadikan proses healing ini sebagai bagian dari gaya hidup, sebagai sebuah pattern otomatis, mekanisme otomatis, saat kita mengalami kekhawatiran dan kecemasan.
Hal lain juga yang perlu dilakukan adalah mengapresiasi diri sendiri. Orang yang punya self-esteem rendah biasanya kurang mengapresiasi diri dan juga tidak merasa diapresiasi oleh sekitarnya. Jadi, cara terbaiknya adalah mengapresiasi diri atas hal-hal baik yang dilakukan, walaupun itu terlihat kecil dan tidak berdampak bagi dunia dan orang lain, tapi itu hal kecil itu berdampak bagi diri sendiri.
Seperti aku, aku sungguh mengapresiasi diriku sendiri yang mampu menuliskan tulisan ini, dan berusaha untuk terbuka, menjabarkan masalah, serta berusaha untuk mencari jawaban dan solusinya. You did well, dear myself!!! #patpat
Love,
Januari, 2020