Selasa, Januari 07, 2020

Memori tentang janji

Sore ini, seorang rani minta sebuah gunting bergerigi padaku. Katanya " Aku ingin main," mungkin sambil memasang wajah yang sulit ditebak. Dia memang tak pernah mudah ditebak bagiku, serupa bawang merah yang berlapis-lapis.

Tapi sebenarnya bukan itu intinya.
Permintaan si rani mengingatkanku pada sebuah janji yang kubuat kurang lebih tujuh tahun lalu. Janji pada seorang sahabat yang sudah kurang lebih lima tahun belum sempat bersua lagi denganku.
Janji itu adalah janji membelikan sebuah modem seharga enam ratus ribu rupiah. Tidak kurang, mungkin boleh sedikit lebih, kalau bisa merk Smartfren. Aku ingat kami menuliskan janji ini di suatu halaman di buku agendaku yang bersampul hijau gelap, yang kemudian kami tanda tangani lengkap bersama dua orang saksi.

Lucunya, dari kedua janji yang kubuat dalam rentang tujuh tahun, aku berikan jawaban serupa: "Nanti saat aku kaya."
Kalimat ini serupa sebuah janji mutlak bagi diriku sendiri. Bahwa suatu ketika nanti aku harus kaya, atau setidaknya aku harus mandiri secara finansial dan memiliki cukup dana untuk memenuhi janji-janji itu, serta mungkin janji-janji lainnya yang saat ini belum diingat otakku. Atau, sekedar janji temu yang lewat di benak dan bibirku kepada siapa saja yang pernah kurindu.

Iya, itu adalah janji yang kubuat, dan sungguh akan berusaha kuwujudkan.

Januari, 2020


PS. Sahabatku Qisthi Al-Sabrina, di mana pun kamu saat ini—apa mungkin masih di Bandung?—, semoga kamu sehat dan bahagia. Aku masih mengingat janji itu, walau sepertinya buku agendaku sudah raib.

Senin, Januari 06, 2020

Gadis yang membangun sungai dan curug

Beberapa hari ini aku teringat dongeng tentang gadis kecil kecil yang berusaha membangun sungai-sungai dan curug-curug kecil. Ia membangun sungai untuk mengalirkan bermacam-macam air yang hendak disaringnya dari waduk yang usang dan tenang, serta curug-curug kecil untuk melahirkan gemericik yang akan meningkahi kesunyian waduknya.

Setiap hari, gadis kecil itu berdandan dengan pita di rambut keritingnya, serta mantel membungkus tubuh gembulnya. Sambil menenteng sepasang batok kelapa, ia berjalan menyusuri setapak menuju waduknya yang tersembunyi di hutan. Batok itu adalah perkakas kesayangannya untuk menggali aliran sungai-sungai yang ia impikan.

Berbulan bahkan tahun berlalu, gadis itu selalu datang dengan pita di rambut keritingnya dan mantel melingkupi tubuh. Ia datang dan bekerja membangun sungai, tapi sekian waktu berlalu tak kunjung usai.
Ia gali satu aliran, lalu lompat ke aliran lainnya. Ia tumpuk batok dan bebatu agar menjadi curug, lalu bergeser ke menumpuk batok dan bebatu bagi calon curug lainnya.

Terus, dan terus. 

Gadis kecil itu terus membangun sungai-sungai untuk mengalirkan bermacam-macam air yang ia saring dari waduknya yang usang dan tenang. Ia terus membangun curug-curug untuk mencipta gemericik yang riuh.

Lagi, dan lagi.

Hingga beberapa hari ini aku mulai tersadar, ini adalah dongeng yang kuciptakan sendiri dalam kepalaku.


Januari, 2020

Jumat, Januari 03, 2020

Sometimes, It's really happen to me

Hari ini aku merasa terlalu banyak bicara dan terlalu lama terpapar udara luar. Di dalam otakku pun rasanya terlalu riuh dan semrawut dengan pikiran yang terus bersautan satu sama lain, yang bahkan kadang ada yang belum selesai namun sudah ditimpa oleh yang lain.
Tapi, aku sama sekali tidak merasa lelah dengan diriku. Aku tidak merasa dikejar-kejar sesuatu. Aku tetap bisa memberi jarak dan melihat ke dalam diriku seharian ini.

Ahh, tapi mungkin sebenarnya aku hanya tidak mampu menjabarkan apa yang berjalan di otakku seharian ini.

Apa semua orang sempat mengalami momen seperti yang kualami ini?
Sebenarnya rasa apa ini?
Bagian dari anxiety kah?
Apakah bentuk kegilaan?
Sekedar perasaan normal yang terlalu kupusingkan?

Kamis, Januari 02, 2020

It's okay if you are not Maudy, just keep going!

https://youtu.be/4nKlfE7jyII

Baru selesai menonton Maudy Ayunda di Perspektif MetroTV.
Saya ingat Rekno pernah bilang sosok Maudy adalah sosok anak yang dicintai dengan penuh oleh kedua orang tuanya.

Well, I am totally agree.
After two times been in a conversation about the most important parent's role in raising their child, I have to say Maudy's parents did a great job.

Dalam pembicaraan tentang parenting itu, saya bersama dua orang perempuan—yang satu sudah jadi ibu, satunya masih gadis—, mereka berbicara bahwa peran penting orang tua adalah mengenali potensi anaknya lalu kemudian mendorong dan memfasilitasi potensi itu untuk berkembang tanpa harus menjadikan sang anak sebagai 'aset' milik orang tua. Anak adalah bibit individu baru, dan orang tua berkewajiban untuk membimbingnya untuk tumbuh secara terkontrol namun tetap bebas dan berdikari, serta tanpa menjadi bibit "individu toxic" bagi orang lain maupun society nantinya.

Kesadaran akan peran penting sekaligus kompleks inilah yang saat ini banyak dikembangkan bagi orang tua jaman sekarang lewat kelas-kelas bahkan artikel soal parenting. Pada saat pembicaraan itu berlangsung, kami menganggap bahwa bentuk "parenting yang ideal" semacam itu tidak diterapkan oleh orang tua  kami. Karena orang tua dari generasi kami—aku paling muda, dan beda usia kami 2–3 tahunan—, umumnya mendidik dengan pattern yang hitam putih dan konvensional. Mereka terfokus pada baik-bandel, pintar-bodoh, nakal-nurut, serta bentuk labelling lainnya yang sifatnya mengkotak-kotakkan anak bahkan tak jarang membandingkan anak-anak. Meski pun dalam praktiknya pattern itu hadir dalam porsi yang sangat variatif di tiap-tiap keluarga, namun secara umum semua cenderung ke arah sana, ke arah konvensional. 

So, saat kami tahu ada anak-anak generasi kami yang rentang usianya tidak jauh berbeda, dan mereka 'beruntung' dibesarkan oleh orang tua dengan cara yang sungguh supportif dengan potensi mereka dan mendorong untuk mengembangkan potensi tersebut, serta cukup demokratis dalam memperlakukan anak—seperti pola didik orang Maudy contohnya—, kami(terutama saya) sungguh iri.

Well, perasaan tidak puas terhadap pola didikan orang tua itu sudah lama saya rasakan. Jauh sebelum saya mendengarkan pembicaraan perihal "parenting yang ideal" itu.  Sejak saya kecil orang tua saya kerap membandingkan saya dengan anak lain yang notabenenya masih saudara kami, hal yang diperbandingkan mulai dari 'dia sudah bisa masak di usia SD, sedangkan saya tidak' (bahkan saya punya trauma dan fobia terhadap korek api, tapi orang tua saya tidak mau memahami itu); 'dia punya sikap yang sangat girly, sedangkan saya tomboy'; 'dia supel dan pintar bergaul dengan orang baru, saya cenderung pendiam dan dingin jika bertemu orang baru'; dan banyak lagi perbandingan lain. Orang tua saya, juga hampir selalu membatasi potensi saya di luar akademik. Bagi mereka yang terpenting adalah nilai bagus dan jadi juara. Mereka tidak pernah tahu saya punya hobi dance dan senam. Bahkan mereka sering memarahi saya kalau melihat saya sibuk menghafal lirik lagu yang saya senangi, atau pun membaca novel atau kumpulan cerpen, karena menurut mereka itu tidak ada hubungannya dengan sekolah. Duhh, betapa sesungguhnya saya sakit hati saat itu—bahkan sampai sekarang saat mengingatnya—, tapi sialnya saya tidak punya keberanian untuk melawan dengan mengambil sikap ekstrem, yang saya lakukan dulu hanya melawan lewat kata-kata dan berakhir tetap mengikuti kata orang tua sambil sedikit curi-curi.

Saya selalu merasa pola didik orang tua saya sangat otoriter dan konvensional serta tidak memberi umpan balik untuk saya menjadi individu yang berkembang dengan sempurna. Perasaan ini hampir selalu membuat saya merasa terkungkung, lack of confident, always feel worry karena merasa tidak dipercaya dan didukung penuh. Saya menyalahkan pola didik orang tua saya atas segala bentuk "ketidaknormalan perkembangan dan minimnya pengalaman" saya dibanding orang lain seusia saya, bahkan yang lebih muda.

Lalu kemudian, saya disadarkan oleh Ratu ๐ŸŒ•, bahwa jika saat ini sungguh sudah bukan lagi waktunya saya menyalahkan pola didik yang diberikan orang tua saya. Iya mungkin memang benar mereka bersalah atas pola yang mereka pilih dalam mendidik saya menjadikan saya orang yang berkembang secara "negatif". Tapi itu semua sudah berlalu. Hal yang perlu saya sadari adalah saat ini saya sudah tumbuh sebagai individu yang bebas dan berakal. Di titik ini saya sudah harus berdamai dengan kesalahan pola asuh yang saya terima dulu. Saya harus mulai lagi mengenali diri saya, apa yang saya suka, apa yang saya bisa dan mampu, apa yang membahagiakan dan menyedihkan bagi saya, saya harus kenal dan berdamai dengan diri saya. Kemudian, saya harus mulai mencari potensi dalam diri saya dan mulai mengerahkan energi untuk fokus mengembangkan potensi tersebut. Saya masih belum terlambat. Saya masih terus berkembang.

I am still alive so I am still have a chance to growth. Ups and downs will always come and go. I just have to keep going, and start and keep believing in myself.
It's okay to did not raise like Maudy was, but I still have a chance to have a beautiful mind and soul like Maudy ๐Ÿค—๐Ÿคญ. I still have a chance follow Maudy's steps of study, to be as smart and wise as her in my own way.
Keep motivating myself to be better version of me.

Cheers๐Ÿป
Love yourself,

January, 2020

This is a never ending act, a lifestyle

Good morning,
Setelah semalam belajar mengenai apa itu 'anxiety' dan 'worry'. Aku sedikit banyak bisa membedakan mana yang sedang kualami. Pada dasarnya 'worry' adalah perasaan khawatir yang dihasilkan oleh otak sebagai mekanisme normal sebagai salah satu bentuk pertahanan. Sedangkan 'anxiety' adalah reaksi fisik—bisa juga psikis— yang diakibatkan oleh worry yang berlebihan dan tidak bisa dikontrol.

Lalu aku mengalami yang mana?
Aku lebih dominan mengalami 'worry'. Di dalam otakku hampir setiap saat selalu terbentuk sebuah skenario buruk sebagai respon dari setiap situasi yang kualami bahkan pikiran/angan yang sedang berlangsung di otakku.
Misalnya pada saat aku dibonceng motor—atau saat menaiki kendaraan apa pun, bahkan saat menyeberang di jalan raya—, di pikiranku selalu muncul adegan-adegan kecelakaan yang mungkin bisa aku alami. Contoh lain, saat aku berkumpul dengan temanku dan teman dari temanku atau teman/orang baru yang aku belum merasa dekat secara personal—I hope you know what I mean—, di otakku akan muncul kekhawatiran dan pertanyaan apakah mereka bisa menerima kehadiranku, apakah sikapku cukup baik, apakah mereka akan kebal dengan sifat asliku yang berisik ceplas-ceplos dan cenderung tidak tahu malu, apakah mereka akan nyaman denganku, apakah mereka akan menolakku kalau tahu uang di sakuku cuma seribu, dst dst.
Contoh lagi, saat aku bertemu dengan teman lama yang sudah tahunan tidak bertemu dan saat bertemu dia/mereka tampak telah hidup dengan lebih baik dan sukses, maka di otakku akan muncul pikiran aku sepertinya sudah tidak pantas bersama mereka, nanti kalau diajak jalan atau ke tempat makan tertentu aku tidak sanggup bayar, apakah mereka masih menerimaku, dll dll.

Aku sadar betul pikiran-pikiran negatif dan skenario buruk yang muncul di otakku itu sebagai manifestasi dari trauma. Gambaran kecelakaan itu merupakan bentuk traumaku pasca kecelakaan besar yang mengubah hidup dan menjadikanku tuna daksa, lima tahun lalu. Sedangkan pikiran buruk saat aku bertemu orang, baik teman lama atau pun orang baru, adalah bentuk trauma karena aku sempat menjadi sasaran bully di masa remajaku. Pem-bully-an ini sungguh sangat membekas di psikisku, ditambah lagi dengan kondisiku saat ini, itulah yang makin memperparah self-esteemku.

Lalu sejauh ini apa yang aku lakukan untuk mengatasi setiap 'worry' atau bahkan 'anxiety' yang muncul setiap saat itu?
I tried. I always been trying to elevate myself. Saat situasi-situasi seperti di atas muncul, aku selalu berusaha untuk menyemangati diriku dan memunculkan pikiran positif di otakku. Menenangkan setiap pikiran buruk itu dengan berusaha menyuntikkan pikiran positif bahwa itu semua hanya kekhawatiran, berkata bahwa setiap orang akan selalu jadi obyek asumsi bagi orang lain dan itu wajar, serta mengatur nafas(kalau ingat). Sejauh ini, aku selalu berusaha dan mencoba untuk mengobati diri dan pikiranku sendiri, mencoba menyemangati sehingga aku bisa bertahan hingga saat ini.
Meski tak jarang usaha-usaha itu gagal, dan aku memilih mengisolasi diriku, memilih circle pertemanan terkecil, yang sudah kupercaya dan kusadari betul bisa menerimaku, untuk berinteraksi.

Pada akhirnya aku sadar, bahwa usaha untuk mengentaskan diri dari 'worry' dan 'anxiety' itu bukan usaha mengukir batu, yang setelah selesai maka hasilnya bisa bertahan selamanya. No, this work is a never ending process, a lifetime act.
Kita akan selalu dihadapkan pada situasi, kondisi, bahkan pemikiran yang dapat men-trigger segala kekhawatiran dan kecemasan itu muncul. Sehingga usaha terbaik yang bisa dilakukan saat itu semua muncul adalah dengan berusaha menenangkan dengan mulai mengambil napas yang dalam(ini hal yang paling sering kulupakan) dan mulai berbicara pada diri dan pikiran kita bahwa segala pikiran negatif itu belum tentu akan terjadi.
So, jadikan proses healing ini sebagai bagian dari gaya hidup, sebagai sebuah pattern otomatis, mekanisme otomatis, saat kita mengalami kekhawatiran dan kecemasan.

Hal lain juga yang perlu dilakukan adalah mengapresiasi diri sendiri. Orang yang punya self-esteem rendah biasanya kurang mengapresiasi diri dan juga tidak merasa diapresiasi oleh sekitarnya. Jadi, cara terbaiknya adalah mengapresiasi diri atas hal-hal baik yang dilakukan, walaupun itu terlihat kecil dan tidak berdampak bagi dunia dan orang lain, tapi itu hal kecil itu berdampak bagi diri sendiri.

Seperti aku, aku sungguh mengapresiasi diriku sendiri yang mampu menuliskan tulisan ini, dan berusaha untuk terbuka, menjabarkan masalah, serta berusaha untuk mencari jawaban dan solusinya. You did well, dear myself!!! #patpat

Love,
Januari, 2020

Rabu, Januari 01, 2020

Hello, New Book

Peoples say new year is a new book, new step of life. They even make some resolutions and goals that they want to achieve.
But for me, since five years ago, every new years are always the same. Yes, of course I felt grateful and thankful to still alive. But, that's it.
Goals and resolutions just stay in few days at the beginning of the year, the rest day just gone and done like water flow.

'Orang normal' mungkin merasa lucu dan menertawakan hidupku, tapi apa mereka paham dengan struggle yang kulalui? Iya, aku tahu mereka juga pasti struggle dalam hidupnya, dan itu tidak mudah. ๋‚œ ์•„๋ผ.

Jadi doaku untuk tahun ini, aku ingin menjadi lebih baik setiap harinya. Aku ingin lebih kenal dengan diriku sendiri; ingin melakukan hal-hal baik untuk diriku sendiri; ingin lebih dekat dengan orang-orang di sekitarku dan memberi atensi pada mereka; mencintai diri, hidup, orang sekitar, dan lingkungan; mengurai kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan di dalam pikiranku; menjadi lebih positif; intinya lebih baik dari aku yang sekarang.

Kalau pun di luaran sana, ada yang membaca ini dan menertawakan, aku harus sadar memang tidak semua pikiran dan keluh kesah seseorang itu penting bagi orang lain. So, it's okay, it's really really no problem.

'Hey diriku, sudah saatnya untuk kamu belajar untuk tidak bermimpi dan berharap dicintai, disenangi, dan dipedulikan semua orang. Itu hal yang ada di luar kendalimu.
Kamu hanya perlu belajar untuk mencintai, menyenangi, dan memedulikan dirimu sendiri, karena itu bisa kamu kendalikan'

Selamat bertemu dengan 2020. Semoga kamu bisa bertahan hingga 366 hari ke depan.
Semoga tahun kabisat sekaligus awal dekade ini jadi keberuntunganmu.

Love,

Tentang Membangun Kebiasaan Kecil-Kecil

 Memasuki bulan Desember tahun 2022, saya sempat berfikir dan bertekat: tahun depan harus punya peningkatan atau self improvement , setidakn...