Senormalnya remaja pada umumnya, aku pun sempat mengalami apa yang disebut sebagai cinta pertama di masa remaja. Dia adalah seorang kakak kelasku ketika SMA, berinisial VTA, yang selanjutnya akan aku sebut sebagai Mr. A.
Mr. A tepat satu tingkat di atasku. Pada saat masuk SMA, awalnya aku tidak tahu dan sama sekali tidak kenal siapa Mr. A ini, tapi beberapa kali sempat dengar namanya saat teman-teman satu kamarku membicaran dia. Menurut teman-teman, Mr. A ini termasuk kakak kelas yang hobi ngecer (hhmmm, bingung juga menerjemahkan arti ngecer itu sendiri, tapi mari sederhanakan saja artinya menjadi: orang gemar tampil di depan dan suka menjadi pusat perhatian dan menebar pesona), selain memang karena dia sangat aktif dalam kegitan sekolah dan dia memang ada di posisi strategis sebagai anggota OSIS dan jajaran pimpinan panitia MOS saat itu.
Tapi aku mulai mengenal dan tertarik pada Mr. A justru bukan saat masa orientasi itu. Aku mulai mengenal Mr. A sekitar tiga atau empat bulan pasca resmi masuk SMA dan aku mulai aktif juga sebagai anggota OSIS. Aku mulai sering melihat dan bertemu dia saat ada rapat OSIS. Bahkan awalnya aku sempat akan masuk ke divisi yang dia pimpin, tapi aku menolak dan memilih divisi lain (sebuah pilihan yang dulu sempat kusesali kenapa gak milih divisi Mr. A )
Sejak mengenal Mr. A, aku mulai tertarik karena dia kelihatan sangat pintar dan sangak aktif, dan lagi dia juga satu dari sedikit siswa di SMA ku yang cukup aktif dalam bidang sastra, dia gemar menulis puisi dan cerpen serta rubrik bulanan yang yang dipasang di mading serta artikel yang dimuat di majalah sekolah. Kesukaannya pada puisi dan cerpen inilah yang menjadi jembatanku dan dia. Seiring berjalan waktu kami jadi berkomunikasi tentang itu lewat inbox facebook.
Entah bagaimana
prosesnya, seiring berjalan waktu aku jadi mulai baper ke Mr. A ini, karena dia
jadi baik dan cukup dekat, padahal aku juga tahu dia juga dekat dengan mbak
kelas, bahkan teman seangkatanku juga. Intinya, sebenarnya tidak ada yang spesial
di antara aku dan dia lebih dari dia dengan yang lainnya. Bahkan mungkin
sebenarnya justru dia dekat dan TTM dengan orang lain, tapi bukan aku.
Tapi aku tahu aku beneran suka sama Mr. A. Aku mengalami apa yang namanya lidah
kelu, dada deg-degan, dan pipi panas, bahkan sampai kaki lemas saat bertemu Mr.
A ini. Duuhhh pokonya gag banget lah kalau diingat.
Aku bertahan dengan perasaan suka—atau cinta monyet— ke Mr. A selama lebih dari satu tahun lamanya. Heboh sendiri dalam diam saat berinteraksi, blushing saat Mr. A memanggil namaku. Hal-hal konyollah pokoknya. Tapi aku tidak pernah bisa membaca Mr. A. Sampai pada bulan April 2014, setelah aku bertahan dengan rasa suka itu selama lebih dari satu tahun, aku memutuskan untuk bilang Mr. A bahwa aku suka dia. Salah satu pertimbanganku adalah saat itu Mr. A sudah hampir lulus dan pasti dia akan melanjutkan studinya, dan aku tidak yakin akan sempat bertemu lagi dengan Mr. A setah dia lulus. Maka suatu hari, kuberanikan diri dan kutetapkan tekad untuk bilang ke Mr. A tentang perasaanku. Pokoknya yang ada di pikiranku saat itu: setidaknya, Mr. A harus tahu dan aku tidak mengharapkan balasan atau apapun itu. Dan dengan itu, maka kutuliskan sebuah surat buat Mr. A yang kukirim lewat inbox facebook.
Butuh waktu dua kali 24
jam buat Mr. A merespon pesanku. Dia awali pesannya dengan
Bismillahhirohmannirohim. Dia bilang dia tidak tahu bahwa aku punya perasaan
seperti itu, dia berterima kasih aku telah punya perasaan seperti itu padanya,
bahkan dia juga minta maaf semisal ada ada tingkah atau perlakuaanya yang
mungkin men-trigger-ku untuk bisa punya perasaan seperti itu.
tapi hanya sedemikan itu saja, karena jelas tidak pernah ada harapan untuk aku
dan dia. Aku paham itu, aku maklum dan aku sadar. Maka kukatakan padanya aku
pun paham posisi kita dan tidak berharap apapun. Satu-satunya harapanku adalah
aku ingin tetap berteman.
Tapi ternyata semua tidak berjalan seperti harapanku. Karena kesibukan dan hal-hal lain, komunikasiku dengan Mr. A kian waktu kian surut. Mr. A pun juga jadi menjaga jarak denganku, jauh lebih berjarak timbang sebelum aku nekad.
Aku maklum. Aku tidak marah. Bahkan cenderung menyalahkan diri sendiri karena aku terlalu gegabah. Dan lambat laun, perasaanku justru berubah menjadi rasa tertolak dan terabaikan.
Semakin waktu berjalan, aku mencoba beberapa kali menyapa, kira-kira pasca aku dioperasi dan di awal-awal kuliah. Tapi jelas, respon yang kudapat sangat amat jauh lebih forml dan ala kadarnya dibanding saat dulu kita masih satu SMA. Dan lagi, aku jadi makin baper dan rasa tertolak dan terlupakan itu kian membesar. Tidak menimbulkan kemarahan atau emosi meledak lainnya, tapi pelan-pelan bercokol masuk ke alam bawah sadar. Di tambah lagi, setelah Mr. A, aku belum pernah mengalami jatuh cinta lagi yang terasa seperti jatuh cinta. Rasa tertarik ke beberapa nama juga tidak pernah terasa seperti rasa suka ke Mr. A dulu. Jadi aku mulai percaya bahwa aku belum pernah lagi jatuh cinta setelah dengan Mr. A.
Nahh, kembali ke “perasaan terlotak” yang dipicu oleh ekspektasiku atas respon Mr. A yang tak tercapai. Pelan-pelan perasaan itu masuk ke alam bawah sadarku, dan termanifestasi dalam mimpi. Aku sadari, aku beberapa kali memimpikan Mr. A, baik dengan skenario yang menyenangkan maupun yang tidak begitu membahagiakan. Namun keduanya sama saja, sama-sama menimbulkan rasa kecewa tiap kali aku bangun karena mau tidak mau aku harus kembali mengingat Mr. A. Aku mulai marah, aku mulai jengkel. Kehadiran Mr. A di mimpiku selalu mengingatkanku pada perasaan tertolak dan terabaikan. Aku tidak mau mengingat dia dengan cara demikian.
Hingga beberapa hari lalu, Mr. A kembali masuk ke mimpiku, dan aku terbangun dengan perasaan tidak karuan, ada kesal, ada marah, ada kangen, ada gembira juga. Pokoknya jadi tidak nyaman. Aku sempat cerita pada Ratu, dan seperti biasa di mulai memancingku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku mau tidak mau mempertanyakan diri dan trayeek pikiranku sendiri. Dan memang itu yang kubutuhkan untuk menguraikan jalan pikiran dan alur emosiku sendiri. Dengan kata lain, mengenali diri dan perasaanku sendiri.
Lalu aku putuskan untuk duduk diam, menarik nafas, dan mulai sedikit menganalisa kehadiran Mr. A di mimpiku. Mempertanyakan mengapa dia kerap hadir padahal aku tidak memikirkannya dan tidak pernah lagi berinteraksi.
Maka setelah kuingat-ingat lagi momen-momen atau fase hidup apa yang kualami tiap kali Mr. A muncul di mimpiku, aku memperoleh kesimpulan bahwa ia hadir di saat-saat aku mengalami fase “penolakan”. Fase atau momen di mana aku baper karena merasa tidak punya siapa-siapa, momen saat aku bernafsu ingin dekat dengan seseorang dalam lingkup pertemanan tapi aku merasa ternyata aku tidak sepenting itu atau sedekat itu bagi mereka.
Dengan kata lain, sebenarnya kehadiran Mr. A itu bukan murni sebagai Mr. A melainkan sebagai manifestasi perasaanku dan emosi negatifku sendiri.
Sama halnya aku dengan semena-mena menempatkan Mr. A sebagai sosok antagonis dalam kisah cinta pertamu kaena dia menjauh pasca aku menyatakan perasaan. Padahal, sebenarnya aku saja yang kelewat baper (baik sejak momen aku mulai jatuh cinta, mulai memndam cinta, hingga momen nekad menyatakan cinta). Aku tidak pernah benar-benar berdialog dengan Mr. A, baik secara fisik maupun energi tentang hal ini, tapi aku hanya terfokus pada pesepsi dan perasaanku sendiri.
Ini bukan soal Mr. A, melainkan soal aku yang ternyata masih kurang peka terhadap perasaanku sendiri. Aku masih terseok dan tertatih untuk mengatur lingkaran-lingkaran porsi dalam peta perasaan dan pikiranku sendiri. Nahas untuk Mr. A, dia harus muncul dalam mimpiku sebagai manifestasi dari perasaan “tertolak dan terabaikan” dari alam bawah sadarku.
Mas A, maafkan aku yaa...
Aku akan belajar lagi untuk tidak mengkambinghitamkan orang lain atas ekspektasiku yang tak sampai dan juga atas tingkat baper-ku yang seringnya, tanpa kusadari, melampaui batas wajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar