Jumat, Juli 02, 2021

Hospital Playlist: Hiburan, Pelajaran, dan Nostalgia

 Penggemar serial drama Korea pasti tidak asing lagi dengan drama ini, Hospital Playlist karya Shin WonHo PD-nim dan Lee EungBok chakka-nim. Drama ini sendiri saat ini telah memasuki season kedua dan Kamis 1 Juli kemarin telah menayangkan episode ke-3. Sedangkan untuk season pertama telah tayang pada April tahun 2020 dengan total 12 episode.

 

Secara pribadi, aku memang penggemar drama-drama karya Shin PD sejak era Reply series hingga Prison Playbook. Drama-drama karya Shin PD terasa spesial dengan ciri khas relationship yang beda dari drama lainnya, drama-dramanya umumnya menonjolkan tentang kekeluargaan, pertemanan, hubungan sosial antar manusia yang dipotret sebagai sebuah keselarasan dan kemanisan. Namun demikian, Hospital Playlist punya arti lain bagiku di samping memang aku penyuka genre medis yang tiap-tiap tokohnya saling unjuk skill.

 

Hospital Playlst membawa sebuah nuansa nostalgia bagiku terkait rumah sakit, pasien menunggu jadwal operasi, rawat inap, serta pandanganku terhadap para orang tua, utamanya ibu-ibu yang mengantar atau menunggui anak-anaknya yang sedang sakit di rumah sakit. Aku pernah berada di rumah sakit untuk  selama hampir dua bulan, serta beberapa tahun rawat jalan dan terapi.

 

Aku masih ingat, di season 1 lalu, aku memilih scene di episode  di mana Kim Junwan datang ke pemakaman seorang pasien bayi yang diputuskan mengalami mati otak dan Junwan memohon kepada orang tua si bayi untuk mau mendonorkan jantung bayinya kepada pasien bayi lain yang sama kritisnya dan perlu donor jantung segera. Scene itu sangat emosional untukku dan penuh sesag, ditambah lagi dengan background music All My Tears yang dinyanyikan oleh Ikjun di latar belakang, rasanya makin menyayat. Dari scene itu aku bisa melihat sisi lain seorang Kim Junwan yang biasanya galak, cerewet, nan ketus menjadi sosok yang sangat perhatian dan penuh empat serta simpati walau tindakan itu tidak dilakukan untuk membangun imej, tapi murni bentuk kepedulian, sebuah sisi lain dari diri seorang Kim Junwan. Tapi lebih dari itu, di scene itu aku melihat perjuangan seorang ibu, lebih tepatnya dua orang ibu dari dua anak yang berbeda. Salah seorang ibu harus merelakan kematian bayinya setelah berjuang sekian lama, bahkan dia dengan berat sekaligus besar hati merelakan jantung bayinya untuk didonorkan. Serta seorang ibu lain yang berjuang mati-matian pula untuk anaknya agar tetap hidup hingga akhirnya mendapat donor jantung.

 

Pengalaman menjalani perawatan di rumah sakit sekian lama membuatku memandang sosok ibu—khususnya, dan orang tua umumnya— dalam memperjuangkan kesembuhan untuk anak-anaknya itu adalah sebuah perjuangan hidup yang teramat .... aku tidak tahu harus menyebutnya bagaimana, aku kehilangan kata-kata. Satu yang jelas, sebuah perjuangan yang mungkin tidak akan sama efelnya jika posisinya dibalik.
Bahkan tak jarang aku merasa iri pada bayi-bayi, anak-anak, atau pasien lain yang ditunggui ibunya selama menjalani perawatan, sedangkan saat itu aku menjalani perawaan sebelum operasi sendirian, tanpa ibu, tanpa orang tua di sisiku karena satu dan lain hal, selama lima minggu.

 

Dan kisah nostalgia itu kembali terulang di episode kemarin. Lagi-lagi kisah perjuangan dua ibu untuk anaknya. Ada dua orang ibu, anaknya sama-sama pasien Kim Junwan, dan mereka masih balita. Salah seorang ibu lebih berpengalaman dari yang satunya karena anaknya sudah lebih lama dirawat di rumah sakit. Si ibu yang lebih berpengalaman itu nampak sangat tegar dan selalu optimis, dia sering menyemangati ibu satunya—yang anaknya baru saja didiagnosa penyakitnya dan menerima perawatan ini itu— dengan penuh optimisme, berbagi pengalaman tentang perawatan apa saja yang akan dilalui anak-anak mereka, menenangkan si ibu “baru” jika ada hal-hal yang tampak membuatnya down, bahkan membawakan dan berbagi makan. Si ibu yang berpengalaman bahkan membagikan pikirannya tentang merawat anak-anak merekan dan mengibaratkan diri mereka sebagai atlet maraton yang sedang berlari untuk mencapai garis finis.

 

Singkat cerita, di episode kemarin anak si ibu “baru” mendapat keajaiban, dia mendapatkan donor jantung dan dapat segera dioperasi. Si ibu, dan ayahnya tentu saja sangat bahagia. Orang tua-orang tua lainnya juga memberi selamat, tak terkecuali si ibu berpengalaman. Ada kelegaan dan secercah kebahagiaan serta harapan yang terpancar di scene itu. Namun demikian, ada sisi lain yang terasa menyayat hatiku. Adalah si ibu berpengalan, dia menangis sendirian di taman rumah sakit, menangis dengan amat sangat keras. Junwan dan Jaehak melihat hal itu dan mereka memutuskan untuk tidak megganggu si ibu. Walau tanpa kata, aku tahu bahwa bagi si ibu yang berpenglaman itu pun semua perjuangnnya pun sangat berat. Dia menyimpan harap dan kekhawatiran yang sama besarnya. Dia pasti juga menantikan kapan anaknya akan dapat donor. Di balik sikan optimisnya, ada kekedihan dan mungkin keputusasaan yang coba ia kubur karena ia yakin keajaiban juga akan datang untuk anaknya.

 

Oh ya, ada satu lagi kisah seorang ibu yang sangat menyayat hatiku. Di season pertama, anak ibu itu telah meninggal setelah menghabiskan hampir keseluruhan dari tiga tahun hidupnya di rumah sakit. Dan di season kedua ini, si ibu diceritakan kerap memgunjungi rumah sakit, sekedar untuk mampir atau membagikan sesuatu, sampai-sampai ada yang mencurigai ibu ini sedang berusaha untuk menuntut rumah sakit dan datang untuk mengumpulan bukti.

Namun Ahn JeongWon menangkap maksud si ibu ini dengan tepat. Si ibu hanya sangat merindukan dan ingin membicarakan anaknya yang sudah meninggal, dia tidak punya tempat lain atau orang lain yang mengingat anaknya selain orang-orang dari rumah sakit itu karena anaknya memang menghabskan hampir seluruh hidupnya di rumah sakit.

 

Ahh, batapa, aku sangat tersentuh dengan sedikit potret perjuangan ibu-ibu dan orang tua pada umumnya yang dipotret dalam dtama ini. Apa yang kutuliskan ini hanya sebagian, masih banyak laagi kisah kemanisan dan kasih seorang ibu dan orang tua yang dipotret di sini. Pun banyak juga kisah-kisah lain yang mungkin sangat relate dengan keidupan sehari-hari yang mungkin bisa kita temui dalam situasi di rumah sakit.[*]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Membangun Kebiasaan Kecil-Kecil

 Memasuki bulan Desember tahun 2022, saya sempat berfikir dan bertekat: tahun depan harus punya peningkatan atau self improvement , setidakn...