Beberapa saat lalu, aku
memposting sebuah story whatssapp berupa buku-buku yang dijajar sembarangan di
bangku pasca insiden rubuhnya rak serbaguna yang memang sudah terlampau rigkih
untuk menampung buku-buku.
Namun satu hal yang menarik
perhatianku adalah komentar salah seorang kawan lamaku. Dia menulis: “Aku
kangen i moco novel. Wes suwi gak moco novel.” (Aku kangen baca novel. Sudah
lama gak baca novel)
Ps: Well, memang mayoritas
bukuku adalah novel ya.
Lalu dari situ obrolan kami
berlanjut ketika aku membalas kenapa dia tidak pinjam buku di perpustaan
sekolah tempatnya mengajar saja (temanku ini guru di sebuah sekolah swasta)?
Karena sepengalamanku, biasanya di perpustaan sekolah-sekolah juga
menyediakan bacaan berupa novel-novel. Dan aku ingat dulu, saat jaman masih
sekolah, aku suka sekali pinjam-pinjam buku di perpustakaan.
Tapi kemudian temanku
menjawab: “Tidak boleh. Perpustakaannya selalu dikunci.”
Dheg! Aku sedikit kaget
dengan jawabannya. Kok bias perpustakaan di sekolah swasta (yang kupikir cukup
bonafide) selalu dikunci? Lalu kalau ada yang pingin baca-baca buku, entah itu
murid atau bahkan guru, bagaimana?
Itulah pertanyaan-pertanyaan
yang akhirnya kulontarkan padanya.
Kemudian ia jawab lagi: "Memang gitu aturannya. Anak-anak kalau masuk dan pinjam buku harus ijin dulu.
Tapi juga gak boleh baca novel atau buku cerita. Bolehnya baca puku pelajaran."
Membaca jawaban temanku, aku
dilanda dheg lagi, tapi bukan karena kaget. Melainkan karena aku merasa betapa
…. Duh, apa ya kata yang tepat untuk menggambarkannya. Terlalu sadis untuk disebut
“miris”, tapi memang hampir. Atau mungkin akan kusebut saja “kering”.
Ya, betapa keringnya fakta
bahwa anak-anak tidak boleh membaca selain buku pelajaran.
Aku pernah mengalami ini.
Ibuku dulu punya pandangan bahwa buku yang layak dibaca adalah buku-buku
pelajaran saja. Namun untungnya, di masa aku sekolah dulu, aksesku ke
perpustakaan-perpustakaan sekolah yang menyediakan bermacam buku sangatlah
mudah. Sehingga aku tidak pernah kesusahan untuk dapat buku-buku bacaan yang
kusuka seperti buku cerita bergambar, majalah, ensiklopedia, juga novel.
Tapi bagaimana dengan
anak-anak jaman sekarang ini?
Kemudian ingatanku juga
melayang pada beberapa bulan sebelumnya. Tepatnya pada bulan Juni tahun ini
(2023). Aku sempat mengunjungi sekolah lamaku, baik sekolah dasar maupun
sekolah menengah pertama. Salah satu tujuanku di masing-masing sekolah itu adalah
mengunjungi perpustakaan.
Namun sayang, di kedua
sekolah itu perpustakaannya dikunci rapat dan aku hanya bisa mengintip melalui
jendela kaca. Ya, memang sih, saat aku ke sekolah saat itu sudah minggu-minggu
bebas setelah ujian kenaikan kelas dan bahkan siswa-siswa SMP sebagian sudah
liburan. Sehingga, saat itu, kupikir cukup wajar bila perpustakaan-perpustakaan
itu dikunci rapat.
Tapi ada satu hal yang juga
mengangguku saat itu. Melalui jendela kaca aku melihat kondisi perpustakaan
yang jauh berbeda dari masa aku masih bersekolah dulu. Bukannya tampak makin
bagus dan rapi, melainkan sebaliknya. Beberapa rak dan buku tampak jauh lebih
kusam, dilapisi debu tebal. Semuanya tampak tak lagi tersentuh tangan manusia
untuk waktu yang cukup lama. Apakah memang demikian adanya? (Padahal aku ingat
betul ada banyak sekali buku-buku bagus dan menarik di
perpustakaan-perpustakaan sekolahku)
Apakah perpustakaan sudah
jadi tempat yang tidak menarik lagi untuk dikunjungi? Atau kasusnya seperti di
sekolah tempat temanku mengajar: perpustakaan bahkan menjadi tempat “tereksklusif”
yang perlu ijin ribet bahkan untuk sekedar dimasuki para siswa karena harus
ijin dulu?
Aku melihat kedua kasus ini
sebagai bentuk kontradiktif dengan seruan-seruan “Peningkatan Budaya Literasi”
yang sering digaung-gaungkan orang-orang. (Bahkan aku yakin temanku ini pernah
memposting sebuah poster dari sekolah tempat ia mengajar dengan seruan yang
serupa).
Rasanya sedikit tidak pas
gituloh. Saat yang digaungkan adalah peningkatan budaya litarasi which is
membaca (khususnya), tapi salah satu sarana, tempat banyak bahan bacaan bisa
ditemukan, justru tidak dioptimalkan. Bahkan di titk mirisnya dibiarkan
terbengkalai.
Dalam bayanganku, jika yang diinginkan
adalah generasi yang cinta membaca dan suka buku, maka fasilitas publik seperti
perpustakaan, khususnya di sekolah-sekolah itu dibuka lebar-lebar. Setiap anak
dibiarkan memilih buku yang disukai untuk dibaca.
Bukan demikan harusnya? Bukankah begitu harusnya budaya literasi ditanamkan?
Tapi kenapa perpustakaan
justru ditutup dan terabaikan?
Apakah guru-guru di sekolah
saat ini juga sudah putus asa untuk menanamkan kegemaran membaca dalam diri
para siswanya? Mungkin saja mereka sudah menyerah karena banyak anak jaman
sekarang lebih suka mengelus layar ponsel ketimbang membolak-balik lembaran
buku bacaan.
Atau, justru orang-orang
jaman sekarang memang sudah modern dan buku-buku fisik mulai dipindah menjadi
buku-buku digital.
Ya, ya. Mungkin begitu. Aku akan
mencoba berpikir demikian saja. Karena akupun mulai banyak mengumpulkan
file-file pdf buku-buku bacaan.
Ah, tapi betapa
menyenangkannya kalau perpustaan-perpustakaan tetap jadi tempat yang mudah
diakses. Karena sungguh, membaca di perpustakaan lebih nyaman ketimbang membaca di
taman atau trotoar. Ups!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar