Senin, Oktober 16, 2023

Tentang Perpustakaan yang Kini Tertutup

 

Beberapa saat lalu, aku memposting sebuah story whatssapp berupa buku-buku yang dijajar sembarangan di bangku pasca insiden rubuhnya rak serbaguna yang memang sudah terlampau rigkih untuk menampung buku-buku.

Namun satu hal yang menarik perhatianku adalah komentar salah seorang kawan lamaku. Dia menulis: “Aku kangen i moco novel. Wes suwi gak moco novel.” (Aku kangen baca novel. Sudah lama gak baca novel)

Ps: Well, memang mayoritas bukuku adalah novel ya.

Lalu dari situ obrolan kami berlanjut ketika aku membalas kenapa dia tidak pinjam buku di perpustaan sekolah tempatnya mengajar saja (temanku ini guru di sebuah sekolah swasta)? Karena sepengalamanku, biasanya di perpustaan sekolah-sekolah juga menyediakan bacaan berupa novel-novel. Dan aku ingat dulu, saat jaman masih sekolah, aku suka sekali pinjam-pinjam buku di perpustakaan.

Tapi kemudian temanku menjawab: “Tidak boleh. Perpustakaannya selalu dikunci.”

Dheg! Aku sedikit kaget dengan jawabannya. Kok bias perpustakaan di sekolah swasta (yang kupikir cukup bonafide) selalu dikunci? Lalu kalau ada yang pingin baca-baca buku, entah itu murid atau bahkan guru, bagaimana?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya kulontarkan padanya.

Kemudian ia jawab lagi: "Memang gitu aturannya. Anak-anak kalau masuk dan pinjam buku harus ijin dulu. Tapi juga gak boleh baca novel atau buku cerita. Bolehnya baca puku pelajaran."

Membaca jawaban temanku, aku dilanda dheg lagi, tapi bukan karena kaget. Melainkan karena aku merasa betapa …. Duh, apa ya kata yang tepat untuk menggambarkannya. Terlalu sadis untuk disebut “miris”, tapi memang hampir. Atau mungkin akan kusebut saja “kering”.

Ya, betapa keringnya fakta bahwa anak-anak tidak boleh membaca selain buku pelajaran.

Aku pernah mengalami ini. Ibuku dulu punya pandangan bahwa buku yang layak dibaca adalah buku-buku pelajaran saja. Namun untungnya, di masa aku sekolah dulu, aksesku ke perpustakaan-perpustakaan sekolah yang menyediakan bermacam buku sangatlah mudah. Sehingga aku tidak pernah kesusahan untuk dapat buku-buku bacaan yang kusuka seperti buku cerita bergambar, majalah, ensiklopedia, juga novel.

Tapi bagaimana dengan anak-anak jaman sekarang ini?

Kemudian ingatanku juga melayang pada beberapa bulan sebelumnya. Tepatnya pada bulan Juni tahun ini (2023). Aku sempat mengunjungi sekolah lamaku, baik sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama. Salah satu tujuanku di masing-masing sekolah itu adalah mengunjungi perpustakaan.

Namun sayang, di kedua sekolah itu perpustakaannya dikunci rapat dan aku hanya bisa mengintip melalui jendela kaca. Ya, memang sih, saat aku ke sekolah saat itu sudah minggu-minggu bebas setelah ujian kenaikan kelas dan bahkan siswa-siswa SMP sebagian sudah liburan. Sehingga, saat itu, kupikir cukup wajar bila perpustakaan-perpustakaan itu dikunci rapat.

Tapi ada satu hal yang juga mengangguku saat itu. Melalui jendela kaca aku melihat kondisi perpustakaan yang jauh berbeda dari masa aku masih bersekolah dulu. Bukannya tampak makin bagus dan rapi, melainkan sebaliknya. Beberapa rak dan buku tampak jauh lebih kusam, dilapisi debu tebal. Semuanya tampak tak lagi tersentuh tangan manusia untuk waktu yang cukup lama. Apakah memang demikian adanya? (Padahal aku ingat betul ada banyak sekali buku-buku bagus dan menarik di perpustakaan-perpustakaan sekolahku)

Apakah perpustakaan sudah jadi tempat yang tidak menarik lagi untuk dikunjungi? Atau kasusnya seperti di sekolah tempat temanku mengajar: perpustakaan bahkan menjadi tempat “tereksklusif” yang perlu ijin ribet bahkan untuk sekedar dimasuki para siswa karena harus ijin dulu?

Aku melihat kedua kasus ini sebagai bentuk kontradiktif dengan seruan-seruan “Peningkatan Budaya Literasi” yang sering digaung-gaungkan orang-orang. (Bahkan aku yakin temanku ini pernah memposting sebuah poster dari sekolah tempat ia mengajar dengan seruan yang serupa).

Rasanya sedikit tidak pas gituloh. Saat yang digaungkan adalah peningkatan budaya litarasi which is membaca (khususnya), tapi salah satu sarana, tempat banyak bahan bacaan bisa ditemukan, justru tidak dioptimalkan. Bahkan di titk mirisnya dibiarkan terbengkalai.

Dalam bayanganku, jika yang diinginkan adalah generasi yang cinta membaca dan suka buku, maka fasilitas publik seperti perpustakaan, khususnya di sekolah-sekolah itu dibuka lebar-lebar. Setiap anak dibiarkan memilih buku yang disukai untuk dibaca.
Bukan demikan harusnya? Bukankah begitu harusnya budaya literasi ditanamkan?

Tapi kenapa perpustakaan justru ditutup dan terabaikan?

Apakah guru-guru di sekolah saat ini juga sudah putus asa untuk menanamkan kegemaran membaca dalam diri para siswanya? Mungkin saja mereka sudah menyerah karena banyak anak jaman sekarang lebih suka mengelus layar ponsel ketimbang membolak-balik lembaran buku bacaan.

Atau, justru orang-orang jaman sekarang memang sudah modern dan buku-buku fisik mulai dipindah menjadi buku-buku digital.

Ya, ya. Mungkin begitu. Aku akan mencoba berpikir demikian saja. Karena akupun mulai banyak mengumpulkan file-file pdf buku-buku bacaan.

Ah, tapi betapa menyenangkannya kalau perpustaan-perpustakaan tetap jadi tempat yang mudah diakses. Karena sungguh, membaca di perpustakaan lebih nyaman ketimbang membaca di taman atau trotoar. Ups!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Membangun Kebiasaan Kecil-Kecil

 Memasuki bulan Desember tahun 2022, saya sempat berfikir dan bertekat: tahun depan harus punya peningkatan atau self improvement , setidakn...