kekasih, perjalanan mengantarkanku pada batas senja, di antara tebing dan palung, ada ribuan butir keresahan yang merentangkan tangannya untukku
sehembus nafas yang kau tiup di ujung ubun-ubun para pecinta menarikku, memaksa tenggelam dalam labirin yang dicipta dari remah huruf namamu, aku mabuk
di antara kedua bibirku terselip sepatah rindu, digaungkan dari kerikil yang memenuhi kerongkongan, menggemakan asma dirimu yang dirapal denyut dada
kekasih, aku mabuk sebab di mataku sosokmu lebur menjelma udara yang menuntunku, mengaburkan jalan kembaliku hingga yang tersisa hanyalah setapak di antara labirin, penuh onak belukar dan kita berdua menapaki satu-satu
tapi perjalanan telah mengantarkan kita di batas senja, di hadapan hamparan jalan berbunga yang menyambut dengan rengkuh sehangat kasih pencipta, kita mabuk
maka kekasih, kubur aku dengan namamu, sebab di antara berbunga ada liku dan persimpangan yang dijanjikan, maka kubur aku dengan namamu.
September 2020
Catatan: judul puisi ini diambil dari frasa yang termaktub dalam judul antologi puisi "Kekasih, Kubur Aku Dengan Namamu" karya penyair Jawa Timur, Kadirman Suryono (alm). Puisi ini ditulis dalam usaha perayaan cinta antara dua manusia yang saya hidupi jalinannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar