Jumat, April 03, 2020

Lagi Pingin Nulis Aja

Punya trauma itu enggak enak.
Punya banyak ketakutan dan skenario mengerikan di otak itu enggak enak. Sumpah.

Orang-orang enggak tahu bagaimana gue berusaha untuk enggak jadi depresi dengan cacatnya gue ini.
Sekali lagi gue bilang: Ini. Enggak. Enak!

Orang-orang enggak paham kan gimana struggle-nya gue untuk menyemangati diri gue sendiri menghadapi kenyataan bahwa sekarang gue cacat. Kalian enggak tahu juga gimana gue berusaha menguatkan diri saat gue kehilangan Ibu. Kalian enggak tahu perjuangan gue untuk tetap kuat saat gue dihadapkan pada kenyataan bahwa gue cacat, gue kehilangan sosok penting gue, dan di saat yang sama gue harus tetap kuat karena kalau gue kelihatan lemah Bapak dan orang tua kandung gue bakalan lebih sedih. Kalian engga tahu seberapa gue harus kuat karena di saat gue ngalamin kecelakaan sampai gue cacat dan kehilangan Ibu, gue harus menenangkan Bapak yang saat itu stroke, supaya engga makin parah dan tetap punya semangat hidup. Seberapa pun gue merasa Bapak mulai menyebalkan, gue tetap sayang beliau.

Terkadang, kalau lagi down, gue pingin marah dan memaki orang—yang kadang, kebanyakan adalah orang dekat— yang mengolok-olok atau bikin bercandaan kondisi gue yang cacat ini. Hei Bangsat, kalau bisa milih gue juga enggak mau punya lakon hidup yang begini. Gue mau tetap normal.

Kadang kalau lagi bad-mood  gue malas menanggapi pertanyaan orang-orang soal gimana gue melakukan ini itu dengan satu tangan. Hey Hooman, elu punya mata, kan? Perhatikan aja gue berkegiatan kan bisa kalau elu pada kepo.

Tapi, kalau gue lagi selow dan stabil, gue juga bisa terima olokan dan ikutan ngebercandain kecacatan gue. Gue bisa menertawakan keadaan ini dengan amat lepas dan santai. Tapi jelas enggak selalu begitu. Engga setiap saat gue ada di posisi stabil dan selow.

Kadang gue heran juga sih, apa tujuan orang-orang yang bikin bercandaan soal kondisi cacat gue ini? Mereka yang biasanya bercanda soal ini itu adalah orang-orang terdekat gue yang gue kagumi, hormati, dan sayangi. Apa mungkin itu bentuk dukungan mereka ke gue? Bentuk lain dari motivasi? Atau sekedar cara mereka ngajarin gue buat menertawakan kehidupan? Gue enggak tahu pasti.
Saat gue lagi stabil, iya gue mikirnya memang tujuan mereka bercanda itu positif untuk menyemangati gue dan mengajak gue menertawakan hidup. Tapi ya saat gue lagi engga stabil, itu membuat gue makin tertekan, insecure, dan memicu trauma gue, membuat gue merasa rendah dan gak berharga lagi. Membuat gue down.

Saat gue nulis ini, sungguh gue bukan lagi dalam posisi lagi dibercandain atau apa. Saat gue nulis ini justru gue lagi dalam kondisi tenang, di tengah masa karantina covid19. Tapi memang Gue lagi di tengah pembacaan sebuah cerita yang mengisahkan soal seseorang yang mengalami PTSD, so ya gitulah gue jadi kepikiran dan nulis ini.

Iya, gue memang punya trauma yang cukup kompleks menurut gue yang menyebabkan gue insecure, enggak percaya diri, dan ketakutan. Tapi sejauh ini enggak dibarengi sama simptom yang parah. Gue merasa masih bisa handle dan melakukan healing sendiri. Tapi mungkin, nanti kalau gue sudah berpenghasilan gue bakal cari bantuan profesional. Semoga gue tetap waras dan baik-baik saja.



April 3, 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Membangun Kebiasaan Kecil-Kecil

 Memasuki bulan Desember tahun 2022, saya sempat berfikir dan bertekat: tahun depan harus punya peningkatan atau self improvement , setidakn...