Tapi sebenarnya bukan itu intinya.
Permintaan si rani mengingatkanku pada sebuah janji yang kubuat kurang lebih tujuh tahun lalu. Janji pada seorang sahabat yang sudah kurang lebih lima tahun belum sempat bersua lagi denganku.
Janji itu adalah janji membelikan sebuah modem seharga enam ratus ribu rupiah. Tidak kurang, mungkin boleh sedikit lebih, kalau bisa merk Smartfren. Aku ingat kami menuliskan janji ini di suatu halaman di buku agendaku yang bersampul hijau gelap, yang kemudian kami tanda tangani lengkap bersama dua orang saksi.
Lucunya, dari kedua janji yang kubuat dalam rentang tujuh tahun, aku berikan jawaban serupa: "Nanti saat aku kaya."
Kalimat ini serupa sebuah janji mutlak bagi diriku sendiri. Bahwa suatu ketika nanti aku harus kaya, atau setidaknya aku harus mandiri secara finansial dan memiliki cukup dana untuk memenuhi janji-janji itu, serta mungkin janji-janji lainnya yang saat ini belum diingat otakku. Atau, sekedar janji temu yang lewat di benak dan bibirku kepada siapa saja yang pernah kurindu.
Iya, itu adalah janji yang kubuat, dan sungguh akan berusaha kuwujudkan.
Januari, 2020
PS. Sahabatku Qisthi Al-Sabrina, di mana pun kamu saat ini—apa mungkin masih di Bandung?—, semoga kamu sehat dan bahagia. Aku masih mengingat janji itu, walau sepertinya buku agendaku sudah raib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar