Kamis, Januari 02, 2020

It's okay if you are not Maudy, just keep going!

https://youtu.be/4nKlfE7jyII

Baru selesai menonton Maudy Ayunda di Perspektif MetroTV.
Saya ingat Rekno pernah bilang sosok Maudy adalah sosok anak yang dicintai dengan penuh oleh kedua orang tuanya.

Well, I am totally agree.
After two times been in a conversation about the most important parent's role in raising their child, I have to say Maudy's parents did a great job.

Dalam pembicaraan tentang parenting itu, saya bersama dua orang perempuan—yang satu sudah jadi ibu, satunya masih gadis—, mereka berbicara bahwa peran penting orang tua adalah mengenali potensi anaknya lalu kemudian mendorong dan memfasilitasi potensi itu untuk berkembang tanpa harus menjadikan sang anak sebagai 'aset' milik orang tua. Anak adalah bibit individu baru, dan orang tua berkewajiban untuk membimbingnya untuk tumbuh secara terkontrol namun tetap bebas dan berdikari, serta tanpa menjadi bibit "individu toxic" bagi orang lain maupun society nantinya.

Kesadaran akan peran penting sekaligus kompleks inilah yang saat ini banyak dikembangkan bagi orang tua jaman sekarang lewat kelas-kelas bahkan artikel soal parenting. Pada saat pembicaraan itu berlangsung, kami menganggap bahwa bentuk "parenting yang ideal" semacam itu tidak diterapkan oleh orang tua  kami. Karena orang tua dari generasi kami—aku paling muda, dan beda usia kami 2–3 tahunan—, umumnya mendidik dengan pattern yang hitam putih dan konvensional. Mereka terfokus pada baik-bandel, pintar-bodoh, nakal-nurut, serta bentuk labelling lainnya yang sifatnya mengkotak-kotakkan anak bahkan tak jarang membandingkan anak-anak. Meski pun dalam praktiknya pattern itu hadir dalam porsi yang sangat variatif di tiap-tiap keluarga, namun secara umum semua cenderung ke arah sana, ke arah konvensional. 

So, saat kami tahu ada anak-anak generasi kami yang rentang usianya tidak jauh berbeda, dan mereka 'beruntung' dibesarkan oleh orang tua dengan cara yang sungguh supportif dengan potensi mereka dan mendorong untuk mengembangkan potensi tersebut, serta cukup demokratis dalam memperlakukan anak—seperti pola didik orang Maudy contohnya—, kami(terutama saya) sungguh iri.

Well, perasaan tidak puas terhadap pola didikan orang tua itu sudah lama saya rasakan. Jauh sebelum saya mendengarkan pembicaraan perihal "parenting yang ideal" itu.  Sejak saya kecil orang tua saya kerap membandingkan saya dengan anak lain yang notabenenya masih saudara kami, hal yang diperbandingkan mulai dari 'dia sudah bisa masak di usia SD, sedangkan saya tidak' (bahkan saya punya trauma dan fobia terhadap korek api, tapi orang tua saya tidak mau memahami itu); 'dia punya sikap yang sangat girly, sedangkan saya tomboy'; 'dia supel dan pintar bergaul dengan orang baru, saya cenderung pendiam dan dingin jika bertemu orang baru'; dan banyak lagi perbandingan lain. Orang tua saya, juga hampir selalu membatasi potensi saya di luar akademik. Bagi mereka yang terpenting adalah nilai bagus dan jadi juara. Mereka tidak pernah tahu saya punya hobi dance dan senam. Bahkan mereka sering memarahi saya kalau melihat saya sibuk menghafal lirik lagu yang saya senangi, atau pun membaca novel atau kumpulan cerpen, karena menurut mereka itu tidak ada hubungannya dengan sekolah. Duhh, betapa sesungguhnya saya sakit hati saat itu—bahkan sampai sekarang saat mengingatnya—, tapi sialnya saya tidak punya keberanian untuk melawan dengan mengambil sikap ekstrem, yang saya lakukan dulu hanya melawan lewat kata-kata dan berakhir tetap mengikuti kata orang tua sambil sedikit curi-curi.

Saya selalu merasa pola didik orang tua saya sangat otoriter dan konvensional serta tidak memberi umpan balik untuk saya menjadi individu yang berkembang dengan sempurna. Perasaan ini hampir selalu membuat saya merasa terkungkung, lack of confident, always feel worry karena merasa tidak dipercaya dan didukung penuh. Saya menyalahkan pola didik orang tua saya atas segala bentuk "ketidaknormalan perkembangan dan minimnya pengalaman" saya dibanding orang lain seusia saya, bahkan yang lebih muda.

Lalu kemudian, saya disadarkan oleh Ratu 🌕, bahwa jika saat ini sungguh sudah bukan lagi waktunya saya menyalahkan pola didik yang diberikan orang tua saya. Iya mungkin memang benar mereka bersalah atas pola yang mereka pilih dalam mendidik saya menjadikan saya orang yang berkembang secara "negatif". Tapi itu semua sudah berlalu. Hal yang perlu saya sadari adalah saat ini saya sudah tumbuh sebagai individu yang bebas dan berakal. Di titik ini saya sudah harus berdamai dengan kesalahan pola asuh yang saya terima dulu. Saya harus mulai lagi mengenali diri saya, apa yang saya suka, apa yang saya bisa dan mampu, apa yang membahagiakan dan menyedihkan bagi saya, saya harus kenal dan berdamai dengan diri saya. Kemudian, saya harus mulai mencari potensi dalam diri saya dan mulai mengerahkan energi untuk fokus mengembangkan potensi tersebut. Saya masih belum terlambat. Saya masih terus berkembang.

I am still alive so I am still have a chance to growth. Ups and downs will always come and go. I just have to keep going, and start and keep believing in myself.
It's okay to did not raise like Maudy was, but I still have a chance to have a beautiful mind and soul like Maudy 🤗🤭. I still have a chance follow Maudy's steps of study, to be as smart and wise as her in my own way.
Keep motivating myself to be better version of me.

Cheers🍻
Love yourself,

January, 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Membangun Kebiasaan Kecil-Kecil

 Memasuki bulan Desember tahun 2022, saya sempat berfikir dan bertekat: tahun depan harus punya peningkatan atau self improvement , setidakn...