Jumat, Maret 06, 2020

Pendulum Otakku

Hello worlds, today I woke up with blank mind after all night long struggled with all the voices talked in my mind.

Apa yang dibicarakan pikiranku? Tentang pikiran positif dan negatif yang saling hadir tumpang tindih di dalam otakku. Uniknya, saat pagi ini aku membuka Instagram, gambar pertama yang muncul di berandaku adalah ini

Sebuah ilustrasi tentang segala pikiran negatif yang kerap muncul dalam otak manusia. Well, aku tidak tahu apakah benar semua manusia pernah mengalami punya pikiran-pikiran negatif seperti dalam gambar? But, I did. Almost all the time, every single time I struggle with all of this negativity in my mind, randomly.

Tapi di kasusku, secepat pikiran negatif itu datang maka tak butuh waktu lama pula "penangkalnya", yang berupa pikiran positif—kadang motivasi atau nasihat yang menyanankan— juga turut datang. Misalnya, saat aku terpuruk dan memikirkan bahwa aku adalah manusia sial yang cacat dan tidak berguna maka sedetik kemudian bagian otakku yang lain akan memunculkan suara yang bilang bahwa semua itu sudah jadi takdir Tuhan dan pasti Tuhan akan bantu dan aku hanya perlu yakin serta mencoba berusaha mencari jalan. Contoh lain, saat aku merasa tidak menarik sebagai perempuan dengan wajah buluk, body gendut, rambut keriting megar, default-face cemberut. Secepat kilat di otakku muncul dorongan untuk berkaca dan kemudian otakku berkata bahwa aku tidak seburuk itu, kulitku meski tidak putih tapi cukup minim jerawat dan tidak rewel, rambutku unik dan cantik, aku gendut tapi masih  terbantu karena aku suka dan sering olah raga.

Yah, kira-kira seperti itulah yang selalu terjadi di otakku. Kapan pun racun pikiran negatif muncul, maka akan segera diobati dengan "penawarnya" yaitu pikiran positif.

Lalu, apakah "penawar" itu manjur???
Well, I dunno, I am not sure. Mungkin aku bisa bilang manjur untuk karena bisa mencegahku untuk tidak jadi amat sangat terpuruk dan berasa makin buruk sesuai dengan pikiran negatifku. Tapi juga terasa tidak manjur karena tidak mampu mengikis dan menghilangkan segala pikiran negatif itu secara permanen.
Pikiran-pikiran negatif masih saja selalu datang dan tidak jarang menjadi makin buruk dan mencekam otakku.

Intinya, mekanisme healing yang hadir secara spontan di otak dan pikiranku itu tidak lantas menjadikanku pribadi yang care-free, bebas, dan brave seperti yang kubayangkan untuk harus kumiliki. Aku selalu menyimpan sifat minder dan over-thinking terhadap segala hal dan situasi, dan aku benci itu.

Terkadang aku berpikir apakah kemampuan "healing"ku itu benar-benar kemampuan yang bagus agar aku tidak jadi gila dan terpuruk dalam skenario negatif pikiranku sendiri atau justru merupakan bentuk denial-ku terhadap segala kekurangan dan kecacatanku. Yah, semacam aku denial terhadap kecacatanku, maka aku memunculkan penghiburan dan motivasi dalam diriku bahwa aku tidak seburuk itu, bahwa aku masih sama berharganya dengan mereka yang sempurna secara fisik. Entahlah.

Yang pasti, aku merasa otak dan pikiranku itu serupa pendulum yang tidak pernah berhenti bergerak dari kutub pikiran negatif dan pikiran positif. Titik kewarasan dan ketenangan yang jadi keseimbangan pendulum itu seolah semu saja.


March 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Membangun Kebiasaan Kecil-Kecil

 Memasuki bulan Desember tahun 2022, saya sempat berfikir dan bertekat: tahun depan harus punya peningkatan atau self improvement , setidakn...